
Danau Napangga terletak di Kecamatan Tanah Putih 70 Km dari Ujung Tanjung. Tepatnya di hulu sungai batang kumuh desa Tanjung Medan perbatasan dengan kabupaten Rokan Hulu dan propinsi Sumatera Utara. Luas Danau Napangga sekitar 500 Ha ini memiliki pesona alam yang sangat indah, air danaunya yang tenang, membuat kira geram untuk menceburkan diri. Danau Napangga memiliki keunikan tersendiri, karena menurut legenda danau ini merupakan tempat persinggahan Raja pada zaman dahulu dan di dalam danau ini hidup species ikan Arwana Sumatera yang mahal harganya. Tidak jauh dari daerah ini tinggal masyarakat Bonai salah satu suku asli yang tinggal di Rokan Hilir. Jalan menuju lokasi Danau Napangga hampir semua sudah diaspal, sehingga sangat memudahkan kita untuk datang kesana.
Batu Belah Batu Bertangkup terletak di desa Bantayan. Bentuknya sebongkah batu besar, yang tengahnya terbelah. Bentuknya mirip kerang raksasa yang sudah menjadi fosil. Dalam buku lintasan Sejarah Rokan, disebutkan bahwa Batu Belah Batu Bertangkup ini pada mulanya merupakan binatang yang hidup, sejenis kerang. Kemudian oleh orang Portugis, kedalam mulut kerang tersebut dicurahkan air kapur yang cukup banyak. Akibatnya kerang raksasa itu mati. Konon, sebelum kerang itu mati, ia memakan hewan apa saja yang tersesat dan masuk kedalam mulutnya. Batu belah mengandung sebuah legenda, tentang seorang ibu yang kecewa melihat tingkah laku anaknya yang sangat nakal. Demikian kecewanya kepada si anak, Sang ibu bunuh diri dengan membiarkan dirinya ditelan batu belah itu. |
|
Pulau Tilan terletak kurang lebih 20 Km dari Ujung Tanjung Kecamatan Tanah Putih, atau bila perjalanan melalui Dumai, dengan menempuh jarak sekitar 40 Km, kita akan sampai di Desa Rantau Bais. Pulau Tilan terletak diseberang Desa Rantau Bais yang dibelah oleh sungai Rokan. Bila ingin ke Pulau Tilan kita harus menggunakan sampan yang memakan waktu sekitar 10 menit. Bibir pantai yang putih, panorama alam yang indah merupakan potensi pariwisata yang sangat besar. Pulau Tilan mempunyai pantai yang sangat indah disepanjang aliran sungai Rokan. Bono sungai Rokan merupakan gelombang yang sangat besar, dengan menyatunya gelombang laut, kemudian gelombang tersebut menghempas ke muara sungai Rokan serta melintas menyisir bibir sungai Rokan. Para pelaut dan nelayan sangat takut bila bertemu dengan Bono, jika salah hitungan bisa-bisa kapal yang sedang berlayar menjadi mangsa bono. Namun ketakutan yang dirasakan seakan-akan hilang ketika melihat masyarakat setempat bermain dengan bono, dengan mesra, canda dan tawa masyarakat setempat naik diatas punggung bono, hal ini dapat kita nikmati di tepi sungai Rokan. | | | Desa Rantau Bais merupakan desa yang tergolong masih alami, belum tersentuh dan dipengaruhi budaya asing. Desa yang letaknya tidak jauh dari jalan raya lintas Pekanbaru – Medan ini memiliki potensi wisata yang sangat besar, baik dari segi keindahan panorama alamnya, budaya bahkan adat istiadat masyarakatnya sangat unik dan menarik. Di perkampungan ini kita dapat melihat rumah – rumah tua yang berarsitektur melayu tradisional. Kampung Rantau Bais terletak berhadapan dengan Pulau Tilan, dibatasi oleh Sungai Rokan, untuk sampai ke tempat ini tidaklah begitu sulit, sekitar jarak 10 km dari simpang jalan raya lintas Pekanbaru – Medan kita akan sampai di desa Rantau Bais, arahnya menuju Sungai Rokan. |
|
This entry was posted on Monday, March 17, 2008 and is filed under
.
You can follow any responses to this entry through the
RSS 2.0 feed.
You can ,
or
trackback from your own site.